Padahal, Dunia Fana, ya?
![]() |
| https://pin.it/6ytOfaL |
"Padahal, Dunia Fana, ya?"
By: Nur Aida Hasanah
Malam itu, dengan perasaan euphoria, aku memotret layar komputer sebelum file "Daftar Kehadiran Dosen #7" disimpan. Setelahnya, aku tak tahan untuk tidak mempostingnya di WhatsApp, makanya lekas kurealisasikan hasratku itu.
Tak berselang lama, Kosma kelasku (Komisariat Mahasiswa; semacam ketua kelas di jenjang sekolah) berkomentar. Sesuai dengan apa yang tertera di caption, kalau aku tak menyangka ternyata secepat ini, dia pun sama tak menyangkanya. Rasanya baru kemarin kita memasuki perkuliahan di semester 3 ini, tau-tau sudah pekan ke-7 saja.
Dia sempat bertanya, "Karena faktor apa ya kira-kira?" Aku jawab, "Udah betah mungkin."—maksud jawabanku karena di semester 3 ini, chemistry dan rasa kekeluargaan di kelas makin terasa, makanya bisa betah. Tapi, tak kusangka, laki-laki yang belum genap berusia 20 tahun ini berkata, "Padahal dunia fana, ya." []
Saat ini, aku termenung mengingat pesan singkat kami berdua di akhir pekan ke-7 sekaligus di gerbang awal pekan ke-8—-malam sebelum kami bertempur dengan soal-soal dan tugas-tugas UTS.
Sebab, satu bulan yang lalu, aku dapat lebih mengenal teman satu kelasku itu. Dia memang orang yang tuturnya santun, lemah lembut, dan punya budi yang luhur. Namun, di samping itu semua, dia adalah harapan tanah kelahirannya, dan dipersiapkan untuk menjadi seorang 'ulama. Berbagai kitab tersusun rapi di rak lemari rumahnya. Kemudian, kehadirannya sudah terasa di tengah-tengah masyarakat; anak-anak dan orang tua, merasakan penyampaiannya yang berilmu dan santun itu.
Namun, aku diingatkan kembali, bahwa manusia hanya bisa berencana, selebihnya Allah yang tentukan rencana itu terealisasi atau tidak.
Sosok yang diharapkan itu, sudah beranjak ke pangkuan Ilahi dan meninggalkan keharuman.
Bukan aku belum menyentuh titik ikhlas, hanya saja, aku adalah tipe orang yang banyak mengenang. Terlebih lagi, jika yang dikenang itu sempat meninggalkan jejak-jejak kebaikan.
Semoga nyaman tempat istirahatmu, dan semoga tempat kembalimu surga ....
[]
Tulisan ini dibuat untuk mengawetkan salah satu chapter dari lembaran hidup ini, guna mengenang sosoknya yang telah pergi: Ahmad Hikam Salsabil


🤍🤍
BalasHapusIyaaa
BalasHapus