Tazkiyatun Nafs (Sebuah Prolog)

 



Pada pembahasan sebelumnya, ada pembahasan mengenai "kesehatan mental".

Berkenalan dengan Kesehatan Mental

Kesehatan merupakan anugerah terbesar bagi manusia, baik kesehatan jasmani maupun rohani. Perhatian manusia terhadap kesehatan jasmani jauh lebih besar daripada kesehatan rohani atau mentalnya. Terbukti jika ada bagian anggota tubuhnya terasa sakit, mereka akan segera ke dokter untuk mengobatinya. Sebaliknya, jika mereka stres atau hati tidak tentram, mereka jarang mengobatinya atau bahkan tidak pernah sama sekali.

Kartini Kartono berpendapat bahwa “Orang yang memiliki mental yang sehat ialah orang yang ditandai dengan sifat-sifat khas antara lain: memiliki kemampuan untuk bertindak secara efisien, mempunyai tujuan hidup, memiliki koordinasi antara segenap potensi diri dengan usaha-usahanya, memiliki regulasi dan integrasi kepribadian dan selalu tenang hatinya”.[1]

Sedangkan Jalaluddin mendefinisikan “Orang yang sehat mentalnya ialah orang yang dalam ruhani atau dalam hatinya selalu merasa tenang, aman, dan tentram”.[2]

Keterpurukan yang terjadi setelah permasalahan demi permasalahan yang datang disebabkan adanya respon yang kurang tepat. Respon yang kurang tepat itu dipicu oleh kurangnya ketundukkan seorang hamba kepada Rabb-nya. Seperti halnya yang dibahas oleh Ustadz Felix, bahwa stres itu terjadi karena seseorang itu G-R (gede rasa), merasa bisa mengendalikan, bisa untuk memengaruhi, bisa untuk betanggung jawab terhadap segala sesuatu[1]. Padahal, hakikatnya ada sesuatu yang bisa kita kendalikan—tentunya biidznillah—dan ada pula sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Dalam arti lain, hasil dari suatu usaha itu ada di tangan Allah Yang Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Namun, sebagian manusia sering lupa dengan hal itu, sehingga mengakibatkan keterpurukan atau mental down ketika ekspektasinya tidak sesuai dengan realita.

Tanpa menafikkan pengobatan pada pihak profesional (seperti halnya: psikologi dan psikiater), Islam mempunyai konsep yang sangat baik bagi kesehatan mental.

Hakikatnya membasuh luka itu upaya dasarnya adalah menyentuh hati, menghidupkan kembali hati, mengisinya dengan kepercayaan dan cinta, mengembalikannya pada hakikat sejatinya yang tunduk patuh pada Rabb-nya[2].  Konsep tersebut adalah tazkiyatun nafs. Di mana dalam pelaksanaannya, bukan hanya sekadar otak-atik otak.

Tazkiyatun nafs itu sudah terbukti kadar mujarabnya oleh Rasulullah saw. dalam membasuh luka jiwa beliau sendiri dan juga para sahabat yang saat itu mengalami tekanan batin yang luar biasa besar. Sebab para sahabat, sebagaimana kita tahu, telah lama melewati jalan panjang perbudakan, bullying, kekerasan mental maupun fisik, yang di mana hal tersebut terjadi sebelum mereka bertemu Rasulullah bahkan hingga para sahabat sudah bergerak dalam dakwah. Lihat saja, kualitas generasi awal itu, dengan tekanan yang begitu besar, tetapi tetap mampu tegak berdiri bahkan mampu mengukir prestasi sejati berujung janji mendapatkan surga. Artinya, betapa dahsyat konsep rumusan Allah berupa tazkiyatun nafs ini[3].



[2] Ulum A Saif dan Febrianti Almeera, Membersihkan Luka Pengasuhan, (Bandung, Strong From Home Publishing, 2019) hal 15.

[3] Ibid, hal 16.


[1] Fatimah, Skripsi : PENGARUH KESEHATAN MENTAL TERHADAP HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP PIRI JATI AGUNG, (Lampung: UIN Raden Intan Lampung, 2019), hal 12-13.

[2]  Ibid, hal 13.


Komentar

Postingan Populer