Menjadi Sosok yang Terhormat
“Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, Maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali (saja)lah, Maka hendaklah kamu kembali. Huwa azkaa lakuum (Itu lebih suci bagimu) dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Ayat di atas
memang membahas etika ketika bertamu, tapi makna yang lebih luasnya lagi adalah
kita diajak untuk memiliki etika hidup terhormat ketika berhubungan dengan
orang lain. Ada sikap meminta izin terlebih dahulu di awal untuk menjaga dari
kemungkinan timbulnya permasalahan emosi. Betapa banyak persoalan terjadi
antara manusia justru karena mengabaikan soal meminta izin ini.
Ini adalah
langkah kuratif kedua dari proses atau metode tazkiyatun nafs. Biasanya
ketika seseorang merasa sebagai ‘korban’ dari suatu peristiwa yang tidak
mengenakkan atau suatu konflik, maka orang tersebut tentu ingin sekali yang
namanya diperhatikan, dihormati, dan dihargai oleh lawan bicaranya. Namun,
Al-Qur’an justru mengajak untuk bersikap yang terhormat kepada orang lain.
Dikarenakan hal tersebut justru akan membersihkan jiwa.
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; dzaalika azkaa lakum (itu lebih suci bagimu). Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat".”
Ini adalah langkah kuratif relasi antara laki-laki dan perempuan yang mungkin timbul gejolak syahwat di antara keduanya. Emosi negatif sangat mungkin muncul dari pandangan yang tidak terjaga dan kemaluan yang tidak terpelihara.
Ada pembelajaran yang sangat menarik dari dua ayat di atas. Di ayat ke-28 surat An-Nur itu menggunakan kata ‘huwa azkaa lakum!’. Sementara di ayat 30nya, kata yang digunakan adalah ‘dzaalika azkaa lakum!’.
Apa bedanya ‘huwa’
dengan ‘dzaalika’, sementara terjemahannya justru diartikan sama:
“Itu lebih suci bagimu!”
Untuk seperangkat etika terhormat saat bertamu, ketika meminta izin, dan berhubungan dengan orang lain disebutkan Al-Qur’an dengan kata ‘huwa’. Perlu diketahui, ‘huwa’ adalah kata ganti sosok dalam bahasa Arab. Menjadi pertanyaan, mengapa Al-Qur’an menggunakan kata ‘huwa’ bukan kata ‘dzaalika’? sementara untuk penjagaan atas pandangan dan kemaluan, Al-Qur’an menggunakan kata ‘dzaalika’ bukan ‘huwa’?
Ternyata salah satu maknanya dan ini akan menjadi pembelajaran buat kita adalah etika terhormat itu sosok. Seseorang diminta untuk menjadi sosok baru yang lebih terhormat untuk membersihkan jiwanya. Saat kemarin orang tersebut memilih menjadi korban keadaan, maka hari ini orang itu diminta untuk menjadi pejuang; sikap mental yang punya kendali diri. Menjadi diri yang baru, sosok yang baru, pribadi yang penuh dengan kehormatan.
Kemudian, terhadap pandangan dan kemaluan, Al-Qur’an menyebut kata ‘dzaalika’; kata tunjuk dalam Bahasa Arab. Ini berarti pandangan dan kemaluan haruslah kita tunjuk seperti sesuatu yang berada di luar diri tapi ada dalam kendali diri. Pandangan yang liar itu bukan (bagian dari) diri. Kemaluan yang tidak dijaga itu bukan (bagian dari) diri. Melainkan mereka ada dalam kendali diri. Oleh sebab itu, pimpinlah mereka. Tunjuk! Dzaalika! Sungguh yang demikian itu lebih suci bagimu, itulah tazkiyatun nafs.
Bahkan kajian terkini di psikolog barat, yang dipimpin oleh David J Lieberman, Ph.D sudah sampai pada kesimpulan bahwa “Sikap hidup yang tenang itu lahir dari sikap hidup yang terhormat”. Dasar pemikiran mereka adalah teori tubuh, teori ego, dan teori jiwa.
Jadi, ketika Al-Qur’an mengatakan sikap hidup yang terhormat itu lebih suci bagimu, itu bukan semata-mata kiasan. Itu sudah benar-benar akan menyucikan jiwa saat seseorang sadar penuh memilih sikap hidup yang terhormat.
Mereka saja yang tidak berkenalan dengan Al-Qur’an sudah sampai pada kesimpulan ini. Apalagi kita yang memahami jiwa lebih dalam dari itu sebab kita menggali konsep nafs-nya di dalam Al-Qur’an, sudah sewajarnya bila ketenangan jiwa yang kita akan peroleh jauh lebih tenteram dibandingkan siapa pun yang tidak mengkaji Al-Qur’an.
Sumber: Saif, Ulum A dan Febrianti Almeera. 2019. Membersihkan Luka Pengasuhan, Bandung: Strong From Home Publishing.


Komentar
Posting Komentar