Antara Raga dan Jiwa Kita


 

Langkah awal dari proses tazkiyatun nafs adalah membersihkan kotoran yang menempel di badan. Hal ini tentunya sering dikerjakan. Akan tetapi dalam pelaksanaannya niatnya belum ada.

Dalam pengertian nafs, ada pengertian bahwa nafs itu unsur yang muncul setelah bergabungnya basyar (dimensi fisik manusia) dengan ruh yang ditiupkan oleh Allah swt.  Maka paling dasar dari sebuah makna tazkiyatun nafs adalah membersihkan unsur fisik manusia (badani).[1]

Saat tiba-tiba emosi negatif itu datang, tiba-tiba muncul rasa kesal atau marah pada seseorang. Tips sederhana ini bisa dilakukan: ubah gerakan lalu mulai bersihkan badanMembersihkannya bisa dengan cara yang sederhana seperti hanya mencuci muka saja, atau boleh juga berwudu, bahkan jika memang perlu lakukan mandi dengan baik hingga keramas dan gosok gigi. Manusia biasanya lebih mudah tersulut marah saat dia belum mandi. Sebaliknya, perasaan jadi lebih lega jika sudah mandi. Karena memang selalu ada keterhubungan antara fisik dengan psikis.[2]

Inilah barangkali alasan mengapa sebelum salat kita diperintahkan untuk wudu terlebih dahulu. Bahkan hukum wudu itu wajib karena hukum salatnya wajib. Bunyi kaidah hukumnya adalah “Perkara wajib yang tidak sempurna kecuali dengan perantaranya, maka perantara itu menjadi wajib,” salat tidak sempurna jika tidak didahului dengan wudu, maka wudu itu menjadi perkara wajib.[3]

Dengan memahami bahwa nafs adalah gabungan unsur fisik (jasad) dengan unsur spirit (ruh), kita akan melihat bahwa wudu itu aktivitas membersihkan fisik, dan salat itu aktivitas membersihkan spirit.[4]

Termasuk juga langkah kuratif yang pertama dari tazkiyatun nafs pertama ini adalah membersihkan apa-apa yang bersentuhan langsung dengan badan kita, seperti pakaian, tempat tidur, ruang kamar, rumah secara keseluruhan, bahkan hingga tempat kerja. Semuanya dibersihkan dengan niat untuk melepas emosi negatif dan menuju kondisi an-nafs al-muthmainnah atau jiwa yang tenang. Insyaallah.[5]



[1] Ulum A Saif dan Febrianti Almeera, Membersihkan Luka Pengasuhan, (Bandung, Strong From Home Publishing, 2019), hal 170.

[2] Ibid, hal 170-171.

[3] Ibid, hal 171.

[4] Ibid, 164-189.

[5] Ibid, hal 171-172


Komentar

Postingan Populer