Peranan Kesehatan Mental

 


Dalam ceramah Ustaz Ucu (Jumat, 03/09/2021), beliau menyampaikan bahwa 75% kesehatan seseorang itu dipengaruhi oleh kondisi qalbiyyah-nya, sedangkan obat hanya berpengaruh 25% saja. Dalam arti lain, ketika seseorang tengah mengalami sakit fisik, kondisinya akan rentan mengalami penurunan ketika ia tidak bisa menjaga kondisi hati atau emosinya dengan baik. Contohnya, ketika orang yang mengalami sakit fisik, dan ia menjadi stres, maka tak menutup kemungkinan jika kondisinya akan bertambah buruk.

Dalam situasi lain, orang yang semulanya terlihat baik-baik saja, tetapi ketika dihadapkan dengan masalah, reaksi yang dimilikinya tidaklah baik. Maka, kondisi mental yang tidak baik tersebut dapat mengakibatkan seseorang terkena sakit fisik. Dalam istilah psikologi, gejala tersebut dinamai dengan psikosomatik.

Benarlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ketahuilah, sungguh di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah segumpal daging itu ialah qalbu (hati).” (H.R Bukhari dan Muslim).

Manusia diciptakan oleh suatu sistem yang anggota-anggotanya berhubungan satu dengan yang lain, di mana jika salah satunya mengalami gangguan maka keseluruhan sistem juga akan terganggu pula. Karena itu kondisi kejiwaan seseorang dapat memengaruhi fungsi tubuhnya. Atau dapat dikatakan bahwa perubahan emosi seseorang mampu menambah atau mengurangi rasa sakit yang dideritanya.[1]

Kesehatan mental yang terganggu berpengaruh buruk terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan. Gejala-gejala yang ditimbulkan oleh gangguan atau penyakit mental tersebut antara lain dapat dilihat dari perasaan, pikiran, tingkah laku, dan kesehatan badan. Dari segi perasaan, gejalanya antara lain menunjukkan rasa gelisah, iri, dengki, sedih, risau, kecewa, putus asa, bimbang, dan rasa marah. Dari segi pikiran dan kecerdasan gejalanya antara lain, menunjukkan sifat lupa dan tidak mampu mengkonsentrasikan pikiran kepada suatu pekerjaan karena kemampuan berpikir menurun. Dari segi tingkah laku antara lain, sering melakukan kelakuan yang tidak terpuji, seperti mengganggu lingkungan, mengambil milik orang lain, menyakiti, dan memfitnah. Apabila keadaan buruk tersebut berlarut-larut, dan tidak mendapatkan penyembuhan, besar kemungkinan si penderita akan mengalami psikosomatik, yakni penyakit jasmani yang disebabkan oleh gangguan kejiwaan, seperti hipertensi, lumpuh, gangguan alat pencernaan, dan lemah saraf.[2]

Dari penjelasan-penjelasan di atas, tentunya kita dapat mengambil kesimpulan bahwa peranan kesehatan mental itu sangat penting. Terlebih lagi, bagi seorang Muslim.

Sebagai manusia, yang merupakan makhluk sosial, dan tentunya bagi umat Islam yang diterangkan dalam ayat Al-Qur’an bahwa ia adalah khalifatullah fiil ardh, tentu sehat menjadi suatu keharusan dan juga keinginan. Sebab, dalam keadaan sehat banyak ibadah dan aktivitas lainnya yang dapat dilaksanakan. Banyak pengalaman yang bisa didapatkan ketika sehat. Kemudian, ada keputusan yang baik dan jelas dari pikiran dan hati yang sehat.


[1] Elis Jazilah, Skripsi : Metode Tazkiyah Al-Nafs Sebagai Terapi Bagi Psikomatik, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2011), hal 26.

[2] Drs. A. F. Jaelani, Penyucian Jiwa (Tazkiyat Al-Nafs) & Kesehatan Mental, (Jakarta Timur: Penerbit Amzah, 2000), hal 82.

 

Komentar

Postingan Populer