Menyelami Makna Takwa
العِبَادَة : هِيَ التَّقْرَبُ اِلَى اللّٰهِ تَعَالَى بِاِمْتِثَالِ اَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيهِ وَالْعَمَلِ بِمَا اَذِنَ بِهِ الشَّارِعُ
"Ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah ta'ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya dan beramal dengan perkara yang diperbolehkannya (perbuatan itu) oleh agama."
Ibadah itu dua:
1. بِاِمْتِثَالِ اَوَامِرِهِ (melaksanakan perintah)
2. وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيهِ (menjauhi larangan)
Poin pertama disebut dengan "الطاعة" (Ath-Tho'ah) atau taat, sedang poin yang kedua disebut dengan "التقوى" (At-Taqwaa) atau takwa.
Rajin dan tidak rajinnya seseorang itu dilihat dari ketaatan kepada perintah. Ketaatan ini tampak oleh mata manusia lainnya. Jadi, ketika ada manusia yang ke masjid, pengajian, salat, dan sebagainya, orang-orang mengatakan, "Orang ini saleh nih". Jika melihat dari sisi ketaatan, saleh itu bisa diukur.
Sementara itu, takwa tidak bisa diukur. Sebab, orang yang melaksanakan perintah atau taat, belum tentu menjauhi apa yang dilarang. Ini sifatnya seringkali tersembunyi, tidak diketahui orang-orang. Berapa kali kita sudah melakukan pelanggaran? Jelas, hanya kita sendiri yang mengetahuinya. Lagipun takwa itu letaknya di hati.
Siapa yang bisa mengatakan kita ini adalah manusia paling takwa? Tidak ada. Kecuali, Nabi. Sebab, Nabi itu maksum (terjaga).
Kata takwa di dalam Al-Qur'an disebut sebanyak 286 kali. Sementara, kata salat disebut sebanyak 100 kali di dalam Al-Qur'an. Ini artinya, penyebutan 'perintah' tidak sebanyak "takwa".
Apakah itu berarti takwa lebih penting daripada salat?
Tentu. Takwa lebih penting daripada salat, karena takwa tidak hanya ada dalam salat. Jika takwa hanya sebatas pada salat, lantas bagaimana dengan ibadah-ibadah yang lainnya?
Contoh, ketika zaman Nabi Muhammad, ada orang tua yang mengurus anaknya tapi pilih kasih, beliau bersabda "Ittaqullah". Begitu pula ketika ada yang memelihara unta—binatang—tapi tidak memberinya makan, beliau bersabda "Ittaqullah". Maknanya, takwa ini bukan hanya terletak pada ibadah salat saja.
Setiap yang taat itu belum tentu takwa, tapi setiap yang takwa sudah pasti taat.
Apa balasan bagi orang yang bertakwa? Tentu, balasannya surga (lihat surat Ali Imran ayat 15).
Kenapa surga diperuntukkan untuk orang yang bertakwa? Karena ia yang bertakwa menjaga dirinya agar terhindar dari (melakukan) larangan-larangan.
Bukan hal yang mudah memang, tapi kita harus mulai membiasakannya.
Hamasah~
Garut, 27 Desember 2022
...
Sumber: Matkul Fiqh—27 Des 2022—Dosen Pengampu: Dr. H. Lutfi Lukman Hakim, Lc., M.H.I


Komentar
Posting Komentar