Berkenalan dengan Kesehatan Mental
Ilmu kesehatan
mental (mental hygiene) merupakan salah satu cabang termuda dari ilmu
jiwa yang tumbuh pada akhir abad ke-19 M dan sudah ada di Jerman sejak tahun
1875 M. Namun demikian, sebenarnya para Nabi sejak Nabi Adam a.s sampai Nabi
Muhammad saw. telah terlebih dahulu berbicara tentang hakikat jiwa, penyakit
jiwa, dan kesehatan jiwa yang terkandung dalam ajaran agama yang diwahyukan
Allah swt.[1]
Ilmu mengenai
kesehatan mental merupakan ilmu yang terbilang belum sedewasa ilmu-ilmu
pengetahuan lainnya. Kajian-kajian para ahli terkait permasalahan tersebut pun
masih dianggap sedikit, ditambah lagi dengan tingginya rasa abai masyarakat,
sehingga banyak yang salah kaprah terhadap kesehatan mental.
Namun, sesuai
dengan kemajuan ilmu pengetahuan, pengertian terhadap kesehatan mental juga
memiliki kemajuan. Sebelumnya, pengertian manusia tentang kesehatan mental
bersifat terbatas dan sempit, terbatas pada gangguan dan penyakit jiwa. Dengan
pengertian ini, kesehatan mental hanya dianggap perlu bagi orang yang mengalami
gangguan dan penyakit jiwa saja. Padahal kesehatan mental tersebut diperlukan
bagi setiap orang yang merindukan ketenteraman dan kebahagiaan.[2]
Sebelum
membahas definisi dua kata sekaligus, yaitu kesehatan mental, maka alangkah
baiknya ada penjelasan mengenai makna sehat dan mental itu sendiri.
Sehat (Health)
secara umum dapat dipahami sebagai kesejahteraan secara penuh (keadaan yang sempurna)
baik secara fisik, mental, maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit
atau keadaan lemah. Sedangkan di Indonesia, UU Kesehatan No. 23/ 1992
menyatakan bahwa sehat adalah suatu keadaan sehat secara fisik, mental, dan
sosial dimana memungkinkan setiap manusia untuk hidup produktif baik secara
sosial maupun ekonomis.[3]
Kemudian,
pengertian mental. Secara etimologis kata mental berasal dari kata latin, yaitu
mens atau mentis yang berarti jiwa, nyawa, sukma, ruh dan
semangat[4].
Dalam arti lain, mental adalah hal yang menyangkut batin dan watak manusia yang
bukan bersifat badan atau tenaga[5].
Sedangkan
menurut istilah, mental adalah semua unsur jiwa termasuk pikiran, emosi, sikap,
dan perasaan yang dalam keseluruhan dan kebulatannya akan menentukan corak
tingkah laku, cara menghadapi suatu hal yang menentukan perasaan, mengecewakan,
menyenangkan, atau menggembirakan[6].
Maka, arti kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang
sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk
menghadapi problema-problema biasa yang terjadi, dan merasakan secara positif
kebahagiaan dan kemampuan dirinya. Fungsi-fungsi jiwa yang dimaksud di atas
ialah seperti pikiran, perasaan, sikap jiwa, pandangan, dan keyakinan hidup,
harus dapat membantu satu sama lain, sehingga dapat menjauhkan orang lain dari
perasaan ragu dan bimbang[7].
Adapun pengertian dari para ahli mengenai kesehatan mental:
1.
Menurut World Health
Organization (WHO, 2001), menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi
dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan
untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan
menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.[8]
2.
Menurut paham ilmu kedokteran,
bahwa yang dimaksud dengan kesehatan mental adalah suatu kondisi yang
memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal di
seseorang dan perkembangan itu selaras dengan keadaan orang lain.[9]
3.
Menurut Mustafa Fahmi
menjelaskan dalam bukunya bahwa yang dimaksud dengan kesehatan mental adalah “…
Kemampuan seseorang untuk menyesuaikan dirinya sendiri dan dengan masyarakat
lingkungannya, hal itu membawanya kepada kehidupan yang sunyi dari kegoncangan,
penuh vitalitas”.[10]
4.
Menurut Dr. Abdul Aziz El-Quusiy
mendefinisikan bahwa kesehatan mental itu adalah “Keserasian yang sempurna atau
integritas antar fungsi-fungsi jiwa yang bermacam-macam, disertai kemampuan
untuk menghadapi kegoncangan-kegoncangan jiwa yang ringan, yang bisa terjadi
pada orang, disamping secara positif dapat merasakan kebahagiaan dari
kemampuan”.[11]
Pada dasarnya, kondisi resah gelisah, ketegangan mental atau stres
dapat dialami oleh semua manusia, bahkan oleh orang-orang beriman sekalipun.
Mengapa demikian? Karena setiap manusia mempunyai potensi untuk itu. Manusia
memiliki emosi yang memicu timbulnya keresahan, kegelisahan, ketegangan, atau
stres. Emosi itu sendiri bukanlah suatu yang mutlak buruk. Orang yang hidup
adalah orang yang masih memiliki emosi karena emosi itu merupakan kumpulan
perasaan yang ada dalam hati manusia. Tidak mungkin manusia hidup tidak
mempunyai perasaan. Perasaan gembira, sedih, takut, benci, cinta, dan marah
merupakan bentuk emosi.[12]
Banyak orang yang berpendapat bahwa rasa gelisah dan stres itu
harus dihindari secara total. Padahal pendapat tersebut tidak seratus persen
benar karena dalam takaran tertentu perasaan gelisah dan stres itu perlu buat
manusia. Semakin tinggi rasa gelisah dan stres, semakin tinggi pula prestasi
yang ia raih. Hal itu disebabkan karena stres dapat merangsang seseorang untuk
mengeluarkan segala kemampuannya agar dapat memecahkan dan mengatasi semua
masalah atau kesulitan yang sedang dihadapi. Akan tetapi, pada takaran
tertentu, rasa stres dan gelisah yang sudah mencapai puncaknya justru akan
berakibat negatif. Prestasi akan turun dan seseorang itu malah tidak
berprestasi apa-apa. Gelisah dan stres pada tahap ini justru akan merusak atau
destruktif.[13]
[1]Drs. A. F. Jaelani, Penyucian Jiwa
(Tazkiyat Al-Nafs) & Kesehatan Mental, (Jakarta Timur: Penerbit Amzah,
2000), hal 75.
[2] Ibid, hal 76.
[3] Kartika Sari Dewi, Buku Ajar Kesehatan
Mental, (Semarang: UPT UNDIP Press Semarang, 2021), hal 10 (Pdf).
[4] Fatimah, Skripsi : PENGARUH KESEHATAN
MENTAL TERHADAP HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP PIRI JATI AGUNG, (Lampung:
UIN Raden Intan Lampung, 2019), hal 11.
[5] Aida Maqbullah, Skripsi : Peranan
Kesehatan Mental Dalam Meningkatkan Efektifitas Belajar Siswa : Studi Kasus
Di SMP Islamiyah Sawangan-Depok, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatulloh, 2005), Hal
10.
[6]
Ibid
[7]
Fatimah, Skripsi : PENGARUH KESEHATAN MENTAL TERHADAP HASIL BELAJAR
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP PIRI JATI AGUNG, (Lampung: UIN Raden Intan
Lampung, 2019), hal 11.
[8]
Kartika Sari Dewi, Buku Ajar Kesehatan Mental, (Semarang: UPT UNDIP
Press Semarang, 2021), hal 10-11 (Pdf).
[9] Aida Maqbullah, Skripsi : Peranan
Kesehatan Mental Dalam Meningkatkan Efektifitas Belajar Siswa : Studi Kasus
Di SMP Islamiyah Sawangan-Depok, (Jakarta: UIN Syarif Hidayatulloh, 2005), Hal
11.
[10] Ibid
[11] Ibid
[12] Drs. A. F. Jaelani, Penyucian Jiwa
(Tazkiyat Al-Nafs) & Kesehatan Mental, (Jakarta Timur: Penerbit Amzah,
2000), hal 142.
[13] Ibid, hal 144.


Komentar
Posting Komentar