Lelah



 



Bismillah


Dalam hidup kita tak lepas dari yang namanya pilihan-pilihan. Tak jarang kita dihadapkan dengan persimpangan jalan. Diakui atau tidak, nyatanya setiap pilihan selalu memiliki konsekuensi di dalamnya. 


Ketika kita memilih untuk menjadi baik, jelas ada konsekuensi di dalamnya. Mendapat ejekan, bisa juga dapat kekerasan secara fisik, dan tingkat yang lebih lagi mendapat tekanan secara psikis lewat tersakitinya orang-orang tersayang kita. Jadi baik, tentu layaknya kita tengah mendaki jalan yang terjal. Sangat tidak mudah.


Namun, menjadi buruk (perilakunya) pun kita tidak akan bisa lepas dari konsekuensi juga. Kalau orang baik tidak disukai, orang buruk apalagi. Ditambah lagi dosa-dosa yang ditanam itu, akan dipetik suatu saat nanti di akhirat.


Banyak orang yang mengeluh lelah menempuh jalan kebaikan yang mendaki lagi sukar. Akan tetapi, tidakkah kita menyadari, bahwa yang menempuh jalan keburukan juga sebenarnya mengalami kelelahan?

Kita lelah dalam fitrah, sedangkan mereka lelahnya benar-benar lelah. 


Kita berlelah-lelah untuk menggapai surga, yang artinya insyaallah kita akan mendapatkan istirahat yang begitu menggembirakan ketika di akhirat nanti. Sedangkan mereka yang menempuh jalan keburukan, ujungnya sangat menyengsarakan, setelah didunianya hidup dengan keresahan. Karena sejatinya dosa selalu membuat seseorang resah.


Kawan-kawanku, fokus adalah suatu hal yang diperlukan. Kita sangat mengetahui bahwa ba'saa', dharra', dan zulzilu (lihat Q.S 2: 214) yang dialami orang-orang terdahulu lebih berat daripada kita. Namun, mereka tetap semangat menjalani semua itu. Karena apa? Karena mereka memiliki fokus, yaitu keridaan Allah. Sehingga, bagaimana pun sulitnya kehidupan dunia yang mereka jalani, mereka tetap semangat, tetap berjuang di jalan-Nya, hingga pada akhirnya mereka dapat merasakan bahwa janji Allah itu beneran, haqq. 


Dalam video Youtube Ust. Felix Siauw, Beyond The Inspiration 04 mengenai Harga sebuah pilihan, penulis begitu tersentuh dan terharu ketika mendengar kisah bahwa, orang 'shiddiqin' yang membenarkan para nabi. Mengajak beriman kepada nabi. Namun, orang-orang justru menginjak-nginjaknya sampai ia mati, bahkan ususnya sampai keluar lewat an*snya. Ketika ia sudah mendapat surga dengan segala kenikmatannya, ia justru ingin kembali ke dunia. Untuk apa? Untuk memberitahukan kepada orang-orang yang telah mengejeknya, menghina, dan menginjak-nginjaknya, bahwa itu yang ia dapatkan ketika menjadi seorang shiddiqin


wallahu a'lam bish-shawaab

Wassalamu'alaikum



Komentar

Postingan Populer