HATI-HATI SELF DIAGNOSED
Bismillah …
Tulisan ini berawal ketika saya
melihat postingan reels di akun @zahwaisl mengenai self diagnosed. Kemudian,
saya berpikir untuk sharing hal yang sama, karena kebetulan saya sendiri
memiliki pengalaman mengenai itu. Jadi, kayaknya enak nih kalau dibahas.
Semoga dari tulisan sederhana ini, buahnya bisa diambil.
Self-diagnosis adalah
mendiagnosis diri sendiri mengidap sebuah gangguan atau penyakit berdasarkan
pengetahuan diri sendiri atau informasi yang didapatkan secara mandiri. Saat
melakukan self-diagnosis, sebenarnya kamu sedang berasumsi
seolah-olah kamu mengetahui masalah kesehatan yang dialami.[1]
Dalam sumber lain, self-diagnosis adalah
upaya mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi yang didapatkan secara
mandiri dari sumber-sumber yang tidak profesional, misalnya teman atau
keluarga, bahkan pengalaman di masa lalu.[2]
Contoh gampang self-diagnosis adalah ketika kamu menyangka, bahwa kamu mengidap bipolar setelah membaca gejala-gejalanya (salah satunya ada mood swing), padahal kamu sama sekali belum melakukan pemeriksaan kepada orang yang profesional; seperti psikolog atau psikiater.
Berdasar pengalaman saya dulu, saya pernah menyangka bahwa saya ini mengidap society anxiety disorder, karena saya suka merasakan kecemasan-kecemasan dan kurang pandai bergaul. Sama, diagnosa itu didapat dari asumsi diri sendiri, bukan dari pihak profesional.
Sampai akhirnya, di bangku kelas 12, ada guru psikologi baru—sepertinya fresh graduate—yang kebetulan beliau adalah seorang perempuan. Tentunya, saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mengobrol secara pribadi dengan beliau. Sebab, di saat itu emosi-emosi yang saya rasakan benar-benar enggak karuan dan menyesakkan, waktu itu perasaan itu sudah terasa dua mingguan atau kurang dari itu ataupun lebih dari itu (agak lupa saya nih). Setelah saya memberanikan diri untuk mengkontek beliau via WhatsApp dan perlahan mulai mengutarakan apa yang saya alami, di awal-awal komunikasi kami, guru saya membalas cukup panjang, tapi tidak terlalu panjang dan tidak terlalu sedikit juga, yang intinya beliau berpesan pada saya untuk jangan mencap diri saya sendiri dengan penyakit anxiety itu.
Disebabkan saat itu masih belum
sekolah tatap muka, akhirnya konsultasi secara luas sangat terkendala. Hingga akhirnya
saat sekolah tatap muka pun tiba, H+6 sekolah dibuka, saya masih ingat, hari
itu hari kamis, kami pun berbincang panjang lebar, berdua di dalam kelas (seusai
teman-teman yang lain pulang).
Ada perbedaan yang sangat kontras setelah saya berbicara dengan ahlinya langsung daripada self-diagnosis. Pertama, saya mengira saya punya society anxiety disorder, setelah konsul, saya tahu ada akar permasalahan yang memicu kecemasan itu, dan itu bukan seperti apa yang saya duga, bukan society anxiety disorder. Jika bisa dibilang, realitanya tidak seburuk apa yang saya sangkakan.
Kedua, enaknya berbicara langsung dengan ahlinya itu, kita jadi bisa mendapatkan solusi yang tepat untuk penyakit apa yang kita idap. Jadinya, kita bisa melihat jalan yang tepat untuk proses healing-nya. Kan percuma, kalau kita sedang sakit A, tapi malah melakukan pengobatan yang harusnya dilakukan oleh pengidap penyakit B, ya enggak akan sembuh-sembuh atuh. Intinya, ketika kita sedang sakit gigi, jangan mengoleskan betadin di pipi kita yang tidak kenapa-napa.
Semoga dari sharing ini, banyak
pelajaran yang bisa kalian petik. Stop self-diagnosed.


Komentar
Posting Komentar