About Ur Mindset
Bismillah ...
Kecenderungan dalam Berpikir
Setiap dari kita akan menjumpai hal-hal yang ingin kita temukan. Apa yang kita temukan itu, entah baik atau buruk, pasti tergantung pada pikiran kita sendiri. Jika pikiran kita selalu ingin hal yang baik-baik, atau menginginkan melihat apa yang kita suka, hobi misalnya, pasti keseharian kita tidak akan lepas dari hal-hal tersebut. Lalu, jika pikiran kita selalu berisikan hal-hal yang buruk, keseharian kita pun tidak akan lepas dari hal itu.
Pikiran bisa terarah pada pikiran atau prasangka positif, dan juga pikiran atau prasangka negatif, semua itu tergantung pada apa yang kita pilih. Setiap manusia akan menjalani hidup dengan mindset yang tertanam di dalam pikirannya. Kecenderungan seseorang dalam berpikir, membuatnya bergerak sesuai dengan apa yang ia yakini. Ada yang semangatnya mengejar impian sangat menggebu-gebu, sampai akhirnya dapat meraihnya, dan ada yang sudah kalah sebelum berperang, semua itu karena mindset yang diyakini oleh masing-masing orang.
Jika pikiran terus saja diisi dengan pikiran atau prasangka yang buruk, seperti menganggap diri pengecut, tidak bisa melakukan apa-apa, hal yang akan dihadapi adalah hal yang menakutkan, orang di luar sana tidak ada yang baik dan tidak ada yang bisa membantu, maka kehidupan orang tersebut akan terus berkutat pada hal-hal semacam itu. Orang tersebut tidak akan maju. Jumud. Kehidupannya hanya akan berada di titik itu-itu saja jika ia terus memelihara mindset semacam itu di dalam dirinya.
Sedangkan, jika pikiran seseorang diisi dengan hal-hal positif, seperti, “Aku bisa melakukannya selama aku mau berusaha dan bertawakal kepada Allah.” Pasti orang tersebut tidak akan jumud, sebagaimana orang-orang pesimis berpikiran akan gagal, gagal, dan gagal. Orang yang optimis akan bergerak dan tidak berdiam di titik yang sama dalam hidupnya.
Selain itu, kecenderungan seseorang dalam berpikir menentukan suasana hatinya. Orang yang pesimis, akan merasa hidupnyalah yang paling sulit, mengeluh tidak ada henti, bahkan sampai tak mau berusaha lagi. Sedangkan, orang yang optimis, akan selalu menganggap, bahwa apa yang ia terima dan hadapi adalah ketentuan Allah, yang pastinya tidak akan membuatnya sengsara, karena Allah tahu yang terbaik untuknya. Ia akan qana’ah dan terus berpikiran positif, “Bisa saja Allah menghancurkan rencanaku, agar rencanaku tidak menghancurkanku.”
Contohnya, ketika seorang pesimis dan optimis sama-sama divonis mengidap penyakit kanker, dan dokter mengatakan kemungkinan hidup mereka tinggal tiga bulan lagi, akan ada respon yang berbeda dari mereka. Si pesimis berkata, “Allah gak adil banget sama saya, nyawa saya udah mau direnggut aja padahal saya belum nikah. Kalau gitu, selama tiga bulan ini saya akan abisin sisa waktu saya di dunia dengan hura-hura.” Sedangkan yang optimis akan berkata, “Alhamdulillah, waktuku bertemu Allah tak lama lagi. Aku beruntung, diberi pengingat kalau waktuku hidup sebentar lagi, sehingga aku bisa menambah amalanku agar bisa kembali ke rahmatullah. Betapa banyak di luar sana yang menjelang kematiannya tidak diberitahu seperti aku, dan tak jarang ada yang meninggal dalam kemaksiatan.”
Ya, dari contoh di atas kita bisa melihat perbedaan jelas yang terjadi di antara keduanya. Orang yang pesimis, akan merasa terpuruk sekali di tengah masalah yang menerpa hidupnya. Sementara yang optimis, akan merasa tenang di tengah masalah yang menerpa hidupnya.
Sebagai umat Islam, kita pun harusnya menyadari, bahwa hal-hal berbau optimisme dan prasangka-prasangka yang baik harus ditanamkan dalam keseharian kita. Mulai dari, berprasangka baik kepada Allah atas apa yang Dia tetapkan untuk hamba-Nya, berprasangka baik kepada diri sendiri, dan berprasangka baik kepada orang lain. Bahkan, ada dalil jelas mengenai prasangka, seperti:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah sebagian dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa, ….” (Q.S Al-Hujurat: 12)
“Aku (Allah) sesuai dengan prasangkaan hamba pada-Ku.” (Muttafaq ‘alaih).
“Janganlah salah seorang di antara kalian mati, melainkan ia harus berbaik sangka kepada Allah.” (H.R Muslim).
Jadi, awal mula dari apa yang kita lakukan adalah memperbaiki mindset kita terlebih dahulu. Berprasangka baik atau optimislah dahulu. Jangan sampai kita terus-terusan kalah sebelum beperang. Kadang, apa yang kita khawatirkan, tidak terjadi dalam realitanya. Bahkan, ahli psikolog pun mengatakan apa yang sebelumnya dikhawatirkan atau yang dinamai unreasonable fear, 90% tidak terjadi dalam realita.
Mulailah untuk berani dan optimis.
Permasalahannya dari sedari dulu, selalu saja, bukan terletak pada bisa atau tidak bisa. Tetapi lebih kepada mau atau tidak mau.[1]
Maka, kuatkanlah kemauanmu dulu, di mana ada kemauan, di situ ada jalan.
Referensi:
- Siauw, Felix Y. 2020. How To Master Your Habits. Jakarta Barat: AlFatih Press
- Sri, Yusrina. 2019. Tenanglah, Ada Allah. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
[1] Siauw, Felix Y. 2020. How To Master Your Habits. Jakarta Barat: AlFatih Press


Komentar
Posting Komentar