About Habits
Bismillah ...
Pada pertengahan bulan Februari 2021, saya pernah membaca buku “How To Master Your Habits” karya Ustaz Felix Y. Siauw, yang menjelaskan mengenai bagaimana cara kita bisa membuat suatu keahlian menjadi kebiasaan. Dalam kata lain, buku tersebut menerangkan bagaimana kita bisa menjadi ahli dalam kebiasaan kita sendiri. Menjadikan suatu hal yang luar biasa menjadi kebiasaan, sehingga semua itu menjadi biasa, mudah, dan asyik untuk dijalani.
Eittss ...
Sebelum ke inti bahasan, alangkah baiknya kita mengenal dulu makna kebiasaan itu sendiri.
"Biasa" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah hal yang
umum. Berarti, sesuatu itu sudah lumrah terjadi oleh pandangan individu itu
sendiri. Sementara, Kebiasaan adalah pola untuk melakukan tanggapan terhadap
situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya
secara berulang untuk hal yang sama. Dari
pengertiannya tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa kebiasaan itu
diambil dari sesuatu yang dipelajari terlebih dahulu oleh seorang individu dan
dilakukan secara berulang.
Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya
perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar
dapat ditunjukkan dalam bentuk seperti berkembangnya pengetahuan, pemahaman, sikap
atau tingkah laku, keterampilan, kecakapan, dan kebiasaan.
Belajar tidak melulu berkaitan dengan bangku sekolah, hal-hal kecil
sampai besar yang terjadi dalam keseharian kita di alam ini, bisa menjadi bahan
belajar kita yang nantinya diproses oleh saraf otak kita sendiri. Kemudian,
setelah otak kita memahami apa yang telah diproses oleh saraf tersebut, maka
tugas kita adalah memilih. Apabila, kita memilih untuk memasukkan apa yang
telah dipelajari itu untuk dilakukan, maka sesuatu itu bisa menjadi kebiasaan
yang terbentuk dalam aktivitas kita, dan teringat terus, karena tersimpan dalam
memori jangka panjang. Sedangkan, jika kita memilih tidak, maka apa yang baru
dipelajari itu akan masuk ke dalam memori jangka pendek, dan otomatis menjadi
hal yang mudah dilupakan.
Hasil dari proses belajar itu bisa menjadi kebiasaan dalam waktu
yang beragam, apa yang dianggap mudah oleh saraf otak kita, maka apa yang baru
dipelajari itu akan langsung diterapkan dalam tingkah laku. Sedangkan, sesuatu
yang sulit, yang akan dibentuk menjadi kebiasaan, perlu proses yang panjang
untuk bisa diterapkan dalam keseharian kita. Pastinya, semua itu perlu practice
(praktik) dan repetition (pengulangan) untuk bisa menjadi habits
(kebiasaan).
Habits (kebiasaan)
diibaratkan sebagai pelayan dalam kehidupan kita. Jika kita sudah cukup
mengajarinya, maka mereka akan melakukan hal-hal secara otomatis.
Apa saja bahan-bahan pengajaran yang diperlukan untuk membentuk
suatu kebiasaan?
Untuk membentuk sebuah kebiasaan baru, apalagi dalam menjadikan hal
yang luar biasa ke dalam kebiasaan, tidak dibutuhkan sebuah motivasi. Karena apalah
daya untaian kalimat, jika tidak ada hasil nyata yang keluar darinya? Yang
diperlukan seseorang untuk membentuk sebuah kebiasaan adalah dengan
pengondisian.
Kita sebuat saja practice dan repetition sebagai ayah
dan ibu. Ketika mereka disatukan dalam sebuah ikatan rumah tangga, maka akan
terlahirlah sebuah kebiasaan. Entah itu disatukan secara terpaksa, seperti
perjodohan ala Siti Nurbaya, atau dilakukan secara sukarela. Kebiasaan bisa terlahir
karena pengondisian. Apabila sudah terbiasa, lambat-laun yang terpaksa pun bisa
menerima dan merasa biasa dalam menjalani, tidak lagi merasa terbebani.
Apalagi, yang sukarela. Seperti kata pepatah jawa, witing tresno jalaran
soko kulino. Cinta datang karena terbiasa. Sesuatu yang dipaksakan agar
menjadi kebiasaan dalam hidup kita pun bisa menjadi hal yang kita sukai ketika
kita telah terbiasa dan reda menerimanya.
Jika disimpulkan, maka cara membentuk kebiasaan yang poin-poinnya diambil dari buku “How To Master Your Habits” karya ustadz Felix Y. Siauw adalah sebagai berikut:
1. Mulai
dari hal-hal yang kecil.
Untuk membentuk suatu kebiasaan yang mungkin terkesan agak berat
atau memang berat untuk dilakukan secara sekaligus, maka mulailah dengan
langkah-langkah kecil.
Contohnya, ketika kita ingin salat tahajud, maka mulailah dari dua rakaat dulu. Membiasakannya dari hal kecil terlebih dahulu. Konsisten dulu dalam dua rakaat tahajudnya.
Lalu contoh lainnya, ketika bersedekah, mulailah dari nominal 500 rupiah/ hari, tidak masalah, yang penting sistem repetition-nya tidak berhenti.
Tenang saja, walau hal-hal tersebut kecil, Allah menyukainya. Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah bersabda, "… Beramallah semaksimal yang kamu mampu, karena Allah tidak akan bosan sebelum kamu bosan dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang kontinyu (terus-menerus) walaupun sedikit."
Contoh lainnya lagi, ketika seseorang yang sebelumnya tidak pernah
menjadi seorang aktivis literasi yang rutin, lalu suatu saat ia ingin menjadi
seorang penggiat literasi yang rutin, maka mulailah membaca buku dari satu-dua
halaman terlebih dahulu. Hal tersebut dikonsistenkan terlebih dahulu.
Mengapa harus dimulai dari hal-hal yang kecil? Karena biasanya,
hal-hal kecil yang dilakukan secara istikamah, bisa mengajak pelakunya untuk
melakukan hal yang lebih dari biasanya. Yang semula tahajud dua rakaat,
lama-kelamaan ketika sudah terbiasa dengan yang dua, pasti akan muncul
keinginan untuk menjadi empat rakaat, dan seterusnya. Yang semula bersedekah 500
rupiah sehari, sudah konsisten dengan hal tersebut, akan muncul keinginan
bersedekah 1000 rupiah, dan seterusnya. Yang membaca buku dari satu-dua halaman
pun begitu, akan ada keinginan untuk menambah bacaannya.
Langkah-langkah kecil tersebut, jika dibiasakan bisa membawa si
pelakunya untuk maju, tidak hanya diam dalam satu titik. Akan ada kemajuan.
Minimal dengan hal tersebut, ada kemajuan tiap satu hari 1%. Bayangkan saja,
berarti dalam satu tahun, kemajuan yang ada bisa bertambah menjadi 365%. Luar
biasa, bukan?
2. Temukan
tempat Habits
Dalam buku “How To Master Your Habits” karya Ustadz Felix Y. Siauw
dijelaskan, bahwa kita harus membuat habits terotomatisasi oleh waktu
sebagai pemicunya, ada trigger dengan kata ‘setelah’. Misalnya, “Saya
akan membaca setelah salat subuh”.
3. Berlatihlah
terus
Sesuatu yang diulang akan menjadi kebiasaan. Yang mulanya sulit,
jika dilatih terus akan menjadi hal yang mudah untuk dilakukan. Pisau yang
terus diasah, akan menjadi tajam. Dalam bela diri pun, orang-orangnya terus
berlatih jurus-jurus sebagai pembiasaan, sehingga ketika dalam kondisi
melakukan bela diri di lapangan langsung, gerakan-gerakannya akan menjadi
sebuah refleks, yang otomatis dikeluarkan.


Komentar
Posting Komentar